;
Tampilkan postingan dengan label Tema Desa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tema Desa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Desember 2012

Puisi Desaku | Desaku Yang Kucinta

Jumat, 07 Desember 2012



DESAKU
odi shalahuddin

pujaan hatiku…”

desa telah mengubah dirinya menjadi kota. ketika tanah-tanah semakin terpuruk ditenggelamkan oleh aspal, adonan semen dan pasir, dan gemerlap keramik pada rumah dan gedung yang bertumbuhan semakin menjauhkan kaki kita berpijak bumi. tiada batas. aliran listrik, telpon, komunikasi seluler, akses internet memandang wajah dunia dalam layar dan bersapa tanpa menunggu kecemasan suara dering bel sepeda dari pak pos. migrasi bukan kemewahan lagi melainkan menjadi perburuan bagi perubahan nasib. kota-kota. negeri seberang. ragam bahasa. pertemuan-pertemuan lahirkan cinta.

ah, masihkah engkau bertanya tentang asal asli? dunia telah terbentang dan tertiti, dengan kerumunan-kerumuan di setiap sudutnya. ruang pertemuan tanpa batas, lahirkan anak-anak manusia. perpaduan. anak-anak dunia. hidup di desa global  tanpa peta. keberuntungan bila dirimu masih memiliki alamat rumah.

tapi bagaimanakah bagi mereka yang berada dalam kamp-kamp penampungan atau lorong-lorong jembatan sebagai warga tanpa pengakuan atas keberadaannya?

desaku yang kucinta……..”

desa. manakah berpulang? ketika desa sudah menjadi dongengan atas para pendahulu tentang kampung halaman. jutaan manusia yang hadir dalam ruang pertemuan dan menyapa dunia dari rumah tak berdinding. Bermimpi tentang wajah kampung halaman yang tak bisa lekat dalam kepala.

”desaku yang kucinta,
pujaan hatiku
tempat ayah dan bunda
dan handai taulanku….”

bagaimana hendak melupa, bila hidup tak pernah bersapa dan menyelaminya. hanya lagu. lagu. lagu. lagu. lagu pengisi hati di kala merasa sepi. engkau?

Yogyakarta, 25 november 2011
http://odishalahuddin.wordpress.com

NAMA ANDA - 08.52

Selasa, 03 Mei 2011

Puisi Alam Pedesaan | Hidup di Desa

Selasa, 03 Mei 2011

Hidup di Desa
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Merdunya seruling di malam hening
Di relung bulan sabit di atas bukit
Sedamai hati petani ketika mimpi telah pergi menanti mentari pagi bersinar kembali,
membawa salam ke seluruh negeri ketika kokok ayam memecah kebisuan dusun
Dan fajar meremang di ufuk timur kehidupan insan menapak lagi

Mengarungi hari panjang yang menjanjikan harapan
Bila sang surya lengser perlahan di ujung senja
Warga desa bergegas kembali ke rumah-rumah mereka,
Berbagi cerita dalam kisah suka dan duka

Meski hati tetap bahagia karena itulah dunia mereka
Hidup di desa pewaris adat nenek moyang mereka


NAMA ANDA - 15.22

Sabtu, 23 April 2011

Puisi Suasana Alam Desa | Di Desaku

Sabtu, 23 April 2011

DI Desaku
Mawardi

Kabut hitam menyelimuti gunung
suasana pagi di desaku

Jalan bertanjak menikung tajam
Jalan berbatu dan berdebu

Riuh bocah kecil permainan kelereng
bola-bola karet malambung

Langkah tegar pak tani dan bu tani
memburu sekarung padi

Ayam jago rebutan betinanya
menthok yang mencari cacing di gangnya.

Tersimpan di memori yang terdalam..

Sadarku

Nyiur melambai-lambai indah di pematang sawah

nina-bobok Ibu pertiwi selagi angin sepoi-sepoi
tiba-tiba badai menerjang
sontak terbangun aku.

Siapa hidangkan keraguan....?
laut berbuih putih, terombang-anbing.

Gunung mengeluarkan abunya
sawah,ladang menjadi subur

para petani berkata
“Ibu pertiwi, terimakasih”

Sesampainya penghujung keraguan ini
aku akan selalu bersamamu ibu pertiwi
salam dari anak yang tak tahu diri
sesalkan impian-impian masalalu
lari terbirit di kejar waktu

Ibu pertiwiku.......

ku kan selalu menjagamu
aku rela berkorban demi Ibu pertiwiku
berharap hari esok tetap berada di pangkuanmu

Lalu-lalang kenangan mengitari diri
lambaian nyiur terus memanggilku untuk hadir di hadapanmu ibu pertiwiku

Panggung politik berjubelkan hipokrit-hipokrit tak berduit
menghanguskan idiologi bangsa
“Ibu pertiwi katanya sedang lara?”

NAMA ANDA - 10.08

Jumat, 01 April 2011

Desa Kita Surga tanpa Malaikat | Puisi Fredy Wansyah

Jumat, 01 April 2011

Desa Kita Surga tanpa Malaikat
Puisi Fredy Wansyah

“Ada daun-daun yang menari bersama lagu burung.
Mereka berbalas percikan air seperti aku
kepada perempuan yang duduk di dalam mataku sekarang.”

“Aku belum menjadi perempuan.
Warna tubuhku tiada hijau yang memberi kita satu nyawa.
Kupu-kupu itu ingin bunga dari daun hijau,
maka dia menangis ketika daun-daun direbut
tanah yang menjadi surga kita dalam berbagi rasa dan menanam rasa”

“Di beranda rumah rumput ini kita menikmati irama dan nada yang dialunkan angin,
disuguhi buah-buah ranum yang dapat kita petik ketika kita lapar,
percikan air di balik
celah daun kuning dapat menghela haus kita setiap usai mendesahkan kata di telinga.
Lupakan kupu-kupu itu, beranjaklah dari kursimu dan pegang ujung celanaku.
Mari kita ikuti gerak daun yang menari di depan rumah kita”

Jatinangor, 2009

NAMA ANDA - 01.49

Rabu, 26 Mei 2010

Contoh Sajak Sunda | Sareupna di Padesan Sunda

Rabu, 26 Mei 2010

SAREUPNA DI PADESAN SUNDA
Kis. Ws.

layung kuning teu matak resmi
marakbak panas ngarerab
mojang desa geus teu bisaeun imut
ah ! ah! sareupna lawang siksaan

malakamaot ngabring marengan peuting
godogan timah ti naraka jahanam panas ngagolak
tapi geus taya umat ceurik jumerit
da rek ngajerit, taya tanaga
rek ceurik, cipanon garing

itu panon-panon surem carelong
waruga nu ngan tinggal kulit + tulang
hamo mampuh mareuman seuneu naraka

tapi mun ieu padesan
geus robah jadi rumahgila
endahna layung jeung imutna mojang desa
baris pulih sabihari.........


Tina Kanjutkundang

NAMA ANDA - 01.33