tak akan pernah ada lagi puisi seperti ini, yang tak jenuh-jenuh menampung segenap air mata, sebab kami menangis bersama saat menuliskan satu-satunya kata yang berabad lama kami pelihara yang kususuneja huruf demi hurufnya dari kucur kekal luka: Mahaluka!
tak akan pernah ada lagi puisi seperti ini, yang kemas menyimpan semesta resah ketika padanya akhirnya kubuka satu-satunya rahasia, yang sudah kujaga berabad lama, yang telah membuat aku berkali-kali dihukum penggal : mati, sebab bertahan mengunci bicara, membisukan semua pintu-pintu suara.
tak akan pernah ada lagi puisi seperti ini yang ikhlas menyimpulkan seluruh sepi, sepi yang alangkah kerasnya bertahan, yang mengisi penuh seluruh kosong semesta hati menjelajah ke semua arah berbatas entah, yang menjadi mula seluruh suara yang kini mengkhianatinya,